[FITRIANI], [FI] and [Profesi Ners], [2025] ASUHAN KEPERAWATAN JIWA HALUSINASI PENDENGARAN PADA NY. K DENGAN TERAPI STRATEGI PELAKSANAAN MENGHARDIK DAN DZIKIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEMBANNA. Jurnal Kesehatan Panrita Husada. (In Press)
FITRIANI_ D.24.12.083.pdf
Download (1MB)
Abstract
Asuhan Keperawatan Jiwa Halusinasi Pendengaran Pada Ny. K Dengan Terapi Strategi Pelaksanaan Menghardik Dan Dzikir Di Wilayah Kerja Puskesmas Lembanna. Fitriani1, Nurlina2.
Latar Belakang: Halusinasi pendengaran merupakan gejala utama pada skizofrenia yang dapat mengganggu fungsi sosial, emosional, bahkan meningkatkan risiko kekambuhan. Intervensi nonfarmakologis, seperti strategi menghardik dan dzikir, terbukti membantu klien dalam mengontrol gejala. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi ODGJ di Sulawesi Selatan mencapai 0,23% atau sekitar 967 orang di Kabupaten Bulukumba. Namun, cakupan pelayanan hanya 34,2% (331 orang). Di Puskesmas Lembanna, jumlah penderita skizofrenia meningkat dari 43 kasus (2022), 49 kasus (2023), menjadi 56 kasus (2024). Dari jumlah tersebut, 19 orang menunjukkan gejala halusinasi pendengaran.
Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi strategi pelaksanaan menghardik dan dzikir dalam menurunkan frekuensi dan intensitas halusinasi pendengaran serta meningkatkan kemampuan kontrol diri klien.
Metode: Studi kasus ini menggunakan pendekatan proses keperawatan terhadap satu klien dengan halusinasi pendengaran di wilayah kerja Puskesmas Lembanna. Intervensi dilakukan selama 5 hari berturut-turut dengan sesi terapi menghardik dan dzikir.
Hasil: Setelah lima hari intervensi dengan durasi 15–30 menit setiap sesi, terjadi penurunan signifikan intensitas dan frekuensi halusinasi. Hari pertama, Ny. K masih sering mendengar suara mengancam, berbicara sendiri, dan mulai menyadari bahwa suara tersebut adalah halusinasi. Hari kedua, suara masih terdengar namun pasien sudah mampu melakukan teknik menghardik dan membaca dzikir. Hari ketiga, frekuensi suara berkurang, pasien tidak lagi berbicara sendiri, meski masih tampak menyendiri. Hari keempat, suara hampir tidak muncul, pasien mulai menerima bahwa suara tersebut tidak nyata, mampu berinteraksi, dan dapat bekerja.
Kesimpulan: Kombinasi terapi menghardik dan dzikir terbukti efektif menurunkan frekuensi halusinasi, meningkatkan kontrol diri, serta menjadi intervensi komplementer keperawatan jiwa berbasis spiritual.
Saran: Keluarga diharapkan aktif merawat anggota yang mengalami gangguan jiwa, mendukung kepatuhan terapi, serta mengambil langkah tepat dalam penanganan masalah.
Kata Kunci: Halusinasi Pendengaran, Strategi Menghardik, Terapi Dzikir
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RT Nursing |
| Divisions: | Faculty of Medicine, Health and Life Sciences > School of Medicine |
| Depositing User: | Unnamed user with email ojs.server@stikespanritahusada.ac.id |
| Date Deposited: | 28 Apr 2026 03:24 |
| Last Modified: | 28 Apr 2026 03:24 |
| URI: | http://repository.stikespanritahusada.ac.id/id/eprint/324 |

